• Sabtu, 18 April 2026

Viral Materi Komedi 2013 Berujung Sidang Adat 2026, Pandji Akui Kehadiran Redakan Emosi Warga Toraja

Photo Author
Tim 24 Jam News, Agro 24 Jam
- Jumat, 13 Februari 2026 | 15:30 WIB
Pandji Pragiwaksono saat menghadiri prosesi sidang adat Toraja yang dihadiri 32 perwakilan masyarakat adat pada Februari 2026 terkait materi komedi lama.  (Instagram.com @pandji.pragiwaksono)
Pandji Pragiwaksono saat menghadiri prosesi sidang adat Toraja yang dihadiri 32 perwakilan masyarakat adat pada Februari 2026 terkait materi komedi lama. (Instagram.com @pandji.pragiwaksono)

Pandji menyatakan, “Bapak perlu tahu, nama panjang saya Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo, Wongso Yudo artinya Bangsa Perang alias ksatria.”

Baca Juga: Pansel OJK Dibentuk 9 Februari 2026, Pendaftaran Calon Ketua Hingga Kepala Eksekutif Dibuka Online

Ia mengungkapkan bahwa pemimpin adat merespons dengan senyuman dan jabat tangan erat sebagai tanda komunikasi yang terjalin baik.

Pandji menambahkan bahwa pengalaman tersebut menguatkan keyakinannya untuk terus berjuang dan belajar dari setiap peristiwa yang dihadapi.

Denda Adat Jadi Simbol Tanggung Jawab dan Rekonsiliasi

Pandji menjalani ritual Ma’Buak Burun Mangkali Oto’ sebagai bentuk pemulihan adat atas materi komedi yang dinilai menyinggung upacara Rambu Solo.

Baca Juga: Prabowo Kantongi Daftar Jenderal Tambang Ilegal, Langkah Tegas Disiapkan untuk Penegakan Hukum

Prosesi berlangsung di Tongkonan Layuk Kaero, Sanggalla, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pada Rabu, 11 Februari 2026.

Dalam keputusan sidang adat, Pandji dikenai sanksi berupa denda satu ekor babi dan lima ekor ayam sebagai simbol tanggung jawab.

Pandji Pragiwaksono, komika senior, menilai proses ini sebagai pembelajaran penting tentang menghormati tradisi dan membangun dialog dengan masyarakat adat.

Baca Juga: Ekonomi Terjebak 5 Persen, Wadirut MIND ID Ungkap Strategi Kejar Target 8 Persen Berbasis Hilirisasi

Ia menyatakan, “Supaya yang lain bisa belajar atau bisa melewati dengan nyaman jalan yang sudah dibuka, Wongsoyudan takdirnya berjuang.”

Peristiwa ini menjadi contoh rekonsiliasi berbasis budaya yang menekankan dialog, tanggung jawab personal, dan penghormatan terhadap kearifan lokal.****

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X