AGRO 24 JAM - Apakah lonjakan kinerja aset lembaga pengelola investasi negara bisa menjadi sinyal baru kekuatan ekonomi Indonesia?
Mampukah konsolidasi korporasi negara benar-benar meningkatkan transparansi dan keuntungan aset publik dalam jangka panjang?
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kebanggaannya terhadap kinerja Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) setelah mencatat peningkatan Return on Asset (ROA) lebih dari 300 persen sepanjang 2025.
Baca Juga: Krisis Energi Global Mengintai Prabowo Siapkan Opsi Work From Home dan Efisiensi BBM Nasional
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara syukuran satu tahun berdirinya Danantara di Wisma Danantara Indonesia, Rabu (11/3/2026), berdasarkan laporan resmi kinerja lembaga tersebut.
Presiden menilai capaian tersebut memperkuat keyakinan pemerintah bahwa konsolidasi pengelolaan aset korporasi negara melalui Danantara merupakan kebijakan strategis yang berada pada jalur tepat.
Kinerja Investasi Danantara Naik Signifikan dalam Satu Tahun Terakhir
Presiden Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, mengatakan peningkatan ROA lebih dari 300 persen menunjukkan pengelolaan aset negara mulai bergerak ke arah lebih produktif.
Baca Juga: Indonesia Menuju Swasembada Beras 2026, Stok BULOG Tembus 3,74 Juta Ton Dan Terus Bertambah
"Saya dapat laporan, saya cukup gembira, return on asset satu tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya sudah naik lebih dari 300 persen," ujar Prabowo.
Ia menambahkan peningkatan tersebut menjadi indikator awal efektivitas model pengelolaan terpusat terhadap aset korporasi negara yang sebelumnya tersebar dalam berbagai entitas bisnis.
Konsolidasi Korporasi Negara Dinilai Kunci Efisiensi Pengelolaan Aset Nasional
Presiden menegaskan manajemen terintegrasi diperlukan untuk memperbaiki tata kelola lebih dari seribu entitas korporasi negara termasuk anak perusahaan berlapis.
Baca Juga: Indonesia Menuju Swasembada Beras 2026, Stok BULOG Tembus 3,74 Juta Ton Dan Terus Bertambah
Menurut Prabowo, awalnya ia memperkirakan jumlah korporasi negara sekitar 250 entitas, namun setelah evaluasi jumlahnya melebihi seribu perusahaan.
Ia menyatakan tidak ada model manajemen global yang efektif mengelola ribuan entitas tanpa sistem kendali terpadu dalam satu struktur manajemen.
Artikel Terkait
Operasi Penegakan Hukum Tambang Ilegal Way Kanan Bukti Komitmen Aparat Jaga Lingkungan dan Stabilitas
Energi Terbarukan Jadi Andalan Hadapi Krisis Dunia, Prabowo Targetkan PLTS 100 Gigawatt Segera Dibangun
Kharg Island Terminal Minyak Vital Iran yang Bisa Picu Krisis Energi Jika Konflik Regional Meningkat Tajam
Ketahanan Pangan Menguat, Stok Beras Nasional Melonjak Dan Impor Dipastikan Tidak Diperlukan Tahun Ini
Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi Saat Risiko Inflasi dan Gangguan Logistik Global Meningkat
Kerja Sama Indonesia - Australia Kian Erat UsaibPertemuan Prabowo dan Richard Marles Bahas Stabilitas Regional
Persaingan Teknologi Global Memanas Setelah Iran Soroti Infrastruktur Cloud dan AI Milik Korporasi AS
Fokus Selamatkan Gajah dari Ancaman Kepunahan, Inpres Konservasi dan Perluasan Habitat Diutamakan
Kurangi Ketergantungan Timur Tengah, Indonesia Buka Impor Minyak AS Demi Stabilitas Energi Nasional
Perpanjangan Kontrak Tambang Freeport Berkaitan dengan Kesepakatan Dagang, Ini Menurut Analisis Jatam