ekonomi

Gen Z Dominasi Investor Saham, Pemerintah Dorong Reformasi BEI Agar Pasar Lebih Transparan dan Kredibel

Senin, 23 Februari 2026 | 11:30 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pentingnya membersihkan saham gorengan di Bursa Efek Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi investor ritel muda. (Instagram.com @Menkeuri)

AGRO 24 JAM - Mengapa pemerintah mengaitkan saham gorengan dengan ancaman hilangnya masa depan investasi generasi muda Indonesia?

Apakah pasar saham nasional sedang menghadapi krisis kepercayaan yang lebih besar dari sekadar koreksi indeks biasa?

Lonjakan Investor Ritel Muda Ubah Wajah Pasar Modal Indonesia

Transformasi pasar saham Indonesia dalam lima tahun terakhir ditandai lonjakan investor ritel muda yang kini mendominasi aktivitas perdagangan harian.

Baca Juga: Indonesia Antisipasi Kebijakan Tarif Baru AS Demi Menjaga Daya Saing Ekspor Nasional Ke Pasar Global

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai perubahan struktur investor ini membutuhkan perlindungan regulasi yang jauh lebih kuat dibanding era sebelumnya.

Ia menyampaikan kekhawatiran bahwa praktik saham gorengan dapat merusak pengalaman investasi pertama generasi muda Indonesia.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah investor saham telah melampaui 12 juta SID pada 2025 dengan pertumbuhan terbesar berasal dari Gen Z dan milenial.

Baca Juga: Walhi Soroti Risiko Ekologis Jika Kontra Freeport Diperpanjang Hingga Cadangan Mineral Habis Sepenuhnya

Situasi tersebut membuat stabilitas pasar tidak lagi hanya isu finansial, tetapi juga isu sosial ekonomi nasional.

Saham Gorengan Dinilai Menggerus Literasi Finansial Investor Pemula

Purbaya menyebut saham gorengan berpotensi menciptakan persepsi keliru bahwa investasi saham identik dengan perjudian cepat kaya.

Harga yang melonjak tanpa dukungan fundamental dinilai berbahaya bagi investor pemula yang belum memahami risiko pasar modal.

Baca Juga: Perjanjian Dagang Indonesia - AS Sorot Ketimpangan Akses Pasar dan Tantangan Ketahanan Pangan Nasional

Ia menilai praktik promosi agresif di media sosial mempercepat terbentuknya gelembung harga pada saham tertentu.

Fenomena ini mengingatkan pemerintah pada sejarah South Sea Bubble yang menyebabkan kehancuran finansial luas akibat spekulasi berlebihan.

Halaman:

Tags

Terkini