RDG Bank Indonesia dan Arah Kebijakan Suku Bunga
Pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 Januari 2026.
Konsensus pasar memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas rupiah.
Baca Juga: Kejagung Sita Dokumen Izin Tambang Konawe Utara, Kerugian Negara Masih Dihitung BPKP
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan fokus BI pada stabilitas nilai tukar dan inflasi.
“Kebijakan moneter akan tetap pro-stabilitas dan pre-emptive,” ujar Perry melalui laman resmi BI, BU juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah.
Stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika global.
Baca Juga: Beban Bunga Utang Membengkak, Defisit Melebar: Risiko Fiskal Indonesia Disorot Pasar Global
Bank sentral menilai ruang pelonggaran suku bunga masih terbatas, keputusan kebijakan akan tetap berbasis data dan risiko.
IHSG Cetak Rekor di Tengah Pelemahan Rupiah
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi saat IHSG mencetak rekor tertinggi di level 9.100.
Kondisi ini mencerminkan perbedaan sentimen antara pasar saham dan pasar valuta asing, aliran dana domestik menopang penguatan indeks saham.
Anomali ini bersifat struktural, pasar saham ditopang laba korporasi dan konsumsi domestik, sementara pasar valas lebih sensitif terhadap arus modal global.
Perbedaan dinamika tersebut menunjukkan kompleksitas pasar keuangan Indonesia.
Investor diminta mencermati risiko secara menyeluruh, koordinasi kebijakan tetap menjadi kunci menjaga stabilitas.****