• Sabtu, 18 April 2026

Kurs Rupiah Tembus Rp16.997 Per Dolar AS, Bank Indonesia Dihadapkan Ujian Stabilitas

Photo Author
Tim 24 Jam News, Agro 24 Jam
- Kamis, 22 Januari 2026 | 14:50 WIB
Ilustrasi Dola AS. 1. Layar kurs menunjukkan rupiah menyentuh rekor terlemah Rp16.997 per Dolar AS di tengah tekanan fiskal dan sentimen global.   (Dok. Kreasi Dola AI)
Ilustrasi Dola AS. 1. Layar kurs menunjukkan rupiah menyentuh rekor terlemah Rp16.997 per Dolar AS di tengah tekanan fiskal dan sentimen global. (Dok. Kreasi Dola AI)

Ketidakseimbangan Valas dan Tekanan Permintaan Dolar Awal Tahun

Bank Indonesia mencatat adanya mismatch antara pasokan dan permintaan valuta asing pada awal 2026.

Baca Juga: Dari Pandemi hingga Transisi Energi, Inilah 4 Tantangan Utama BUMN Menurut Versi Nicke Widyawati

Permintaan dolar meningkat untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi dividen, di sisi lain, konversi devisa hasil ekspor dinilai belum optimal.

Bank Indonesia menyatakan tekanan rupiah bersifat temporer, BI memastikan ketersediaan likuiditas valas dan menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental, BI tetap berada di pasar melalui intervensi terukur.

BI juga mengoptimalkan instrumen DNDF dan SRBI untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Bantah Isu Politik, Rupiah Hampir Rp17.000 per Dolar AS Dinilai Dipicu Spekulasi Pasar

Langkah tersebut bertujuan meredam volatilitas tanpa mengganggu mekanisme pasar, kebijakan stabilisasi dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Sentimen Global Dorong Dolar Sebagai Aset Safe Haven

Penguatan Dolar AS turut dipicu ketegangan geopolitik global dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

Isu rencana kenaikan tarif AS terhadap negara Eropa meningkatkan permintaan aset safe haven, mata uang regional seperti Won Korea turut mengalami pelemahan signifikan.

Baca Juga: Dari Pandemi hingga Transisi Energi, Inilah 4 Tantangan Utama BUMN Menurut Versi Nicke Widyawati

Analis pasar global dari Bloomberg, menilai tekanan mata uang Asia terjadi secara merata.

“Investor global kembali mencari aset aman seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik,” tulis Bloomberg, kondisi ini memperkuat indeks Dolar AS secara global.

Bagi negara berkembang, penguatan dolar menambah tekanan pada stabilitas nilai tukar domestik.

Baca Juga: Divestasi Berlanjut, Kepemilikan Glencore di Harita Nickel Tinggal 6,74%, Berikut Ini Data Resmi Bursa

Arus modal cenderung bergerak ke instrumen berbasis dolar, situasi tersebut mempersempit ruang penguatan mata uang regional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X