Ketidakseimbangan Valas dan Tekanan Permintaan Dolar Awal Tahun
Bank Indonesia mencatat adanya mismatch antara pasokan dan permintaan valuta asing pada awal 2026.
Baca Juga: Dari Pandemi hingga Transisi Energi, Inilah 4 Tantangan Utama BUMN Menurut Versi Nicke Widyawati
Permintaan dolar meningkat untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi dividen, di sisi lain, konversi devisa hasil ekspor dinilai belum optimal.
Bank Indonesia menyatakan tekanan rupiah bersifat temporer, BI memastikan ketersediaan likuiditas valas dan menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental, BI tetap berada di pasar melalui intervensi terukur.
BI juga mengoptimalkan instrumen DNDF dan SRBI untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Langkah tersebut bertujuan meredam volatilitas tanpa mengganggu mekanisme pasar, kebijakan stabilisasi dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Sentimen Global Dorong Dolar Sebagai Aset Safe Haven
Penguatan Dolar AS turut dipicu ketegangan geopolitik global dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Isu rencana kenaikan tarif AS terhadap negara Eropa meningkatkan permintaan aset safe haven, mata uang regional seperti Won Korea turut mengalami pelemahan signifikan.
Baca Juga: Dari Pandemi hingga Transisi Energi, Inilah 4 Tantangan Utama BUMN Menurut Versi Nicke Widyawati
Analis pasar global dari Bloomberg, menilai tekanan mata uang Asia terjadi secara merata.
“Investor global kembali mencari aset aman seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik,” tulis Bloomberg, kondisi ini memperkuat indeks Dolar AS secara global.
Bagi negara berkembang, penguatan dolar menambah tekanan pada stabilitas nilai tukar domestik.
Arus modal cenderung bergerak ke instrumen berbasis dolar, situasi tersebut mempersempit ruang penguatan mata uang regional.
Artikel Terkait
Pelanggaran Izin Korporasi Nikel Pulau Gebe Terungkap dalam Temuan BPK dan DPRD Maluku Utara
Koordinasi Fiskal Moneter Diperkuat, Kemenkeu dan BI Rencanakan Pertukaran Jabatan
Warren Buffett Siapkan Distribusi 150 Miliar Dolar AS, Dana Amal Wajib Habis Dalam 10 Tahun
Target Investasi Rp 2.100 Triliun 2026, Pemerintah Andalkan EBT dan Data Center Nasional
Ekonomi Tumbuh 5 Persen Tapi Pajak Minus 0,7 Persen: Ada Apa dengan Penerimaan Negara Saat Ini
Penyidikan Tambang Konawe Utara Berlanjut, Kejaksaan Agung Tunggu Hasil Audit Kerugian Negara
Harga Saham Naik, Glencore Kurangi Kepemilikan Harita Nickel Hingga 224,47 Juta, Bertahap Terukur
Dari BBM Satu Harga hingga Transisi Energi, Nicke Widyawati Paparkan Beban Strategis BUMN
Penyidikan Tambang Konawe Utara Berlanjut, Kejaksaan Agung Tunggu Hasil Audit Kerugian Negara
Isu Deputi BI Menguat, Rupiah Melemah, Ini Penjelasan Resmi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa