ARGO 24 JAM - Apakah pelemahan rupiah ke level terendah sepanjang sejarah mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi nasional?
Ataukah ini hanya gejolak sementara yang dipicu sentimen global dan dapat diredam melalui kebijakan moneter Bank Indonesia (Bi)?
Rupiah Sentuh Rekor Terendah Sepanjang Sejarah Januari 2026
Nilai tukar rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan 20 Januari 2026, menembus Rp16.997 per Dolar AS secara intraday.
Baca Juga: Data PDB Dipertanyakan, PEPS Sebut Angka Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 Berpotensi Overstated
Data pasar menunjukkan rupiah ditutup melemah di kisaran Rp16.945–Rp16.956 per Dolar AS, melampaui rekor terendah April 2025.
Sejumlah korporasi perbankan nasional bahkan telah memasang kurs jual Dolar AS di atas Rp17.000.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas fiskal domestik.
Baca Juga: Pencalonan Deputi Gubernur BI 2026: DPR Tegaskan Usulan Bukan Dari Presiden Secara Resmi
Defisit APBN 2025 tercatat mencapai 2,92 persen dari PDB, mendekati batas legal 3 persen.
Kondisi tersebut memicu kehati-hatian pelaku pasar terhadap kesinambungan fiskal jangka menengah.
Selain faktor fiskal, isu independensi bank sentral turut memengaruhi persepsi risiko Indonesia di mata investor global.
Baca Juga: Kejagung Sita Dokumen Izin Tambang Konawe Utara, Kerugian Negara Masih Dihitung BPKP
Sentimen ini mendorong arus keluar modal asing jangka pendek dari pasar keuangan domestik.
Dampaknya, permintaan valas meningkat signifikan dalam waktu singkat.