ARGO 24 JAM - Apakah pergeseran kekayaan konglomerat Indonesia di awal 2026 sekadar fluktuasi pasar, atau sinyal perubahan peta bisnis nasional?
Mengapa pengusaha asal Jember justru mampu menyalip tokoh pusat data yang dijuluki Bill Gates Indonesia?
Forbes Awal Tahun Ungkap Pergeseran Kekayaan Nasional
Forbes merilis daftar orang terkaya Indonesia per 1 Januari 2026 yang menunjukkan perubahan peringkat akibat dinamika nilai saham dan kinerja korporasi sepanjang akhir 2025.
Baca Juga: Surplus Solar Nasional Sebesar 4 Juta Kiloliter, Kilang Balikpapan Persempit Ruang Importir BBM
Haryanto Tjiptodiharjo, Direktur Utama PT Impack Pratama Industri Tbk, naik ke peringkat enam dengan kekayaan Dolar AS 8,9 miliar atau sekitar Rp 148 triliun.
Posisi tersebut menggeser Otto Toto Sugiri, pendiri korporasi pusat data DCI Indonesia, yang turun ke peringkat tujuh dengan kekayaan Dolar AS 8,7 miliar.
Konglomerat Jember Naik Berkat Lonjakan Nilai Saham
Forbes mencatat lonjakan kekayaan Haryanto Tjiptodiharjo berasal dari peningkatan kinerja saham Impack Pratama Industri pada kuartal akhir 2025.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh, Tapi Tak Inklusif: Sektor Padat Modal Dominasi, Tenaga Kerja Tersisih
Dalam keterangannya di situs resmi korporasi, Haryanto menyebut fokus efisiensi dan ekspansi regional menopang pertumbuhan kinerja keuangan korporasi.
“Strategi diversifikasi produk dan penguatan pasar domestik menjadi prioritas kami menghadapi volatilitas global,” ujar Haryanto Tjiptodiharjo, Direktur Utama PT Impack Pratama Industri Tbk.
Fluktuasi Pasar Tekan Kekayaan Korporasi Pusat Data
Otto Toto Sugiri mengalami koreksi kekayaan seiring pergerakan harga saham sektor pusat data yang sensitif terhadap suku bunga global.
Dalam laporan tahunan di laman resmi DCI Indonesia, manajemen menyebut tekanan biaya energi dan investasi infrastruktur menjadi tantangan sepanjang semester kedua 2025.
Namun, Otto Toto Sugiri tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu pionir ekosistem pusat data nasional.