ARGO 24 JAM - Mengapa ekonomi Indonesia mampu tumbuh stabil di kisaran 5%, tetapi jutaan orang tetap kesulitan memperoleh pekerjaan layak?
Apakah pertumbuhan ekonomi saat ini benar-benar mencerminkan perbaikan kesejahteraan masyarakat luas, atau justru menyembunyikan persoalan struktural pasar kerja?
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5% dalam beberapa tahun terakhir kembali menimbulkan sorotan, seiring tingginya tingkat pengangguran dibanding negara ASEAN lainnya.
Baca Juga: Kritik Lewat Humor: Stand Up Mens Rea Pandji Pragiwaksono dan Dinamika Demokrasi Indonesia
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Indonesia masih berada di kisaran 5%, tertinggi di antara negara Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi serupa.
Dana Moneter Internasional mencatat Indonesia tetap tumbuh resilien, namun kualitas pertumbuhan dinilai belum sepenuhnya inklusif terhadap penciptaan lapangan kerja formal.
Pertumbuhan Ekonomi Didorong Sektor Padat Modal Berteknologi Tinggi
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai semakin bertumpu pada sektor padat modal.
Baca Juga: Strategi Presiden: Prabowo Subianto Pilih “Buta Nama” Korporasi Demi Integritas Penegakan Hukum
Sektor pertambangan, komoditas, dan manufaktur berbasis teknologi menyumbang PDB besar tetapi memiliki daya serap tenaga kerja terbatas.
Pertumbuhan tetap tinggi, tetapi lapangan kerja tidak bertambah signifikan karena mesin dan teknologi menggantikan banyak fungsi manusia.
Kondisi tersebut berbeda dengan sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki yang justru mengalami tekanan akibat perlambatan permintaan global.
Baca Juga: Akuisisi SariWangi Jadi Langkah Strategis Grup Djarum Perluas Portofolio FMCG Minuman
Elastisitas Tenaga Kerja Terus Mengalami Penurunan Signifikan
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan elastisitas tenaga kerja Indonesia mengalami tren penurunan dalam satu dekade terakhir.
Ia menyebut setiap 1% pertumbuhan ekonomi kini hanya mampu menyerap sekitar 100 ribu hingga 200 ribu tenaga kerja baru.
Artikel Terkait
Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,1 Persen, Ini Faktor Pendukungnya
Greenland Tidak Dijual: 3 Sikap Tegas Pemerintah Otonom Hadapi Ambisi Besar merika Serikat
Indonesia Setop Impor Daging Babi Spanyol, Ini Strategi Cegah Wabah ASF dengan Mortalitas Hingga 100 Persen
Purbaya Yudhi Sadewa soal OTT Pajak Jakut: Ada Pendampingan, Tidak Ada Intervensi KPK
Puluhan Miliar Dolar AS Ekspor Crude Palm Oil, Laba Dinilai Tidak Sepenuhnya Masuk ke Indonesia
Telepon Subuh Mentan Amran Gagalkan Penyelundupan Bawang Bombay Ilegal 133,5 Ton di Semarang
SPHP Beras Diperpanjang hingga 31 Januari 2026, Stok 3,25 Juta Ton Jadi Penyangga Harga Nasional
Presiden Gelar Ratas di Hambalang, 6 Proyek Hilirisasi Didorong Groundbreaking Februari 2026
SariWangi Kembali ke Korporasi Lokal, Grup Djarum Rampungkan Akuisisi dari Unilever Indonesia
Jutaan Hektare Ditertibkan, Presiden Prabowo Kirim Sinyal Keras: Untik Tegakan Hukum Tanpa Intervensi