Menurut Laura Amigo, teknologi tersebut hanya mempercepat proses teknis produksi berita.
Baca Juga: Indonesia Soroti Proposal Perdamaian Gaza Board of Peace, Ini Isi Penting Dua Puluh Poin Rencana
Keputusan utama tetap berada pada jurnalis yang menentukan sudut pandang, konteks, serta relevansi sebuah peristiwa bagi publik.
Mesin dapat memproses data dengan sangat cepat.
Namun kemampuan menilai apakah sebuah informasi menyesatkan atau penting tetap membutuhkan penilaian manusia.
Baca Juga: Tumpang Pitu Antara Potensi Emas Besar dan Kekhawatiran Warga Soal Dampak Lingkungan Pesisir Selatan
Kemampuan Bercerita dan Empati Masih Sulit Ditiru Mesin
Berita yang paling diingat publik biasanya bukan sekadar kumpulan fakta.
Cerita yang kuat sering lahir dari pengalaman manusia yang disampaikan secara naratif.
Jurnalis sering menemukan detail penting saat berinteraksi langsung dengan narasumber di lapangan.
Baca Juga: Infrastruktur Desa Jadi Fokus Pemerintah Usai Prabowo Resmikan 218 Jembatan uintuk Wilayah Terpencil
Ekspresi wajah, nada suara, serta emosi narasumber sering memberi kedalaman pada sebuah cerita.
Elemen-elemen tersebut menjadi kekuatan jurnalisme yang belum dapat digantikan oleh sistem otomatis.
Semakin Banyak Informasi Beredar Semakin Besar Kebutuhan Jurnalisme Terpercaya
Era digital membuat siapa saja dapat memproduksi dan menyebarkan informasi secara instan.
Namun situasi ini juga meningkatkan risiko penyebaran rumor, disinformasi, dan hoaks.