• Sabtu, 18 April 2026

Selat Hormuz Terancam Tertutup, Ekonom Peringatkan Dampak Lonjakan Harga Minyak Terhadap APBN

Photo Author
Tim 24 Jam News, Agro 24 Jam
- Selasa, 10 Maret 2026 | 15:05 WIB
Ekonom Indef, Dr Hakam Naja. Krisis energi global dapat menjadi peluang bagi Indonesia mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau dan energi berkelanjutan. (Dok. Kreasi Dola AI)
Ekonom Indef, Dr Hakam Naja. Krisis energi global dapat menjadi peluang bagi Indonesia mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau dan energi berkelanjutan. (Dok. Kreasi Dola AI)

AGRO 24 JAM - Apakah konflik militer Amerika Serikat dan Israel melawan Iran bisa menjadi pemicu krisis energi baru di dunia?

Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, bagaimana strategi Indonesia melindungi ekonomi nasional dari lonjakan harga minyak?

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global karena potensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat memengaruhi jalur distribusi minyak dunia.

Baca Juga: Mirae Asset Angkat Bicara Soal Angka Rp14,5 Triliun Setelah Penggeledahan Penyidik OJK dan Bareskrim

Perhatian utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi internasional.

Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut sehingga potensi penutupan jalur itu berisiko memicu lonjakan harga energi secara cepat.

Ekonom Indef Dr Hakam Naja menilai Indonesia perlu menyiapkan langkah ekonomi strategis untuk menghadapi kemungkinan tersebut.

Baca Juga: Ketegangan Geopolitik Dunia Meningkat, Prabowo Pastikan Ketahanan Pangan Tetap Aman Hadapi Krisis Global

Ketegangan Timur Tengah dan Risiko Gangguan Distribusi Energi Dunia

Konflik di Timur Tengah sejak lama dikenal sebagai faktor yang memengaruhi volatilitas harga energi global.

Gangguan terhadap jalur distribusi seperti Selat Hormuz dapat mempercepat lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.

Dr Hakam Naja mengatakan harga minyak dunia saat ini telah mencapai sekitar Dolar AS 92 per barel, level tertinggi sejak tahun 2020.

Baca Juga: Pemerintah Antisipasi Kekeringan Dengan Pompanisasi Lahan Demi Menjaga Produksi Beras Nasional

Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal awal bahwa risiko geopolitik mulai memengaruhi pasar energi internasional.

Dampak Lonjakan Harga Minyak Terhadap Defisit Anggaran Negara Indonesia

Kenaikan harga minyak memiliki konsekuensi langsung terhadap stabilitas fiskal Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X