agribisnis

Indonesia Setop Impor Daging Babi Spanyol, Ini Strategi Cegah Wabah ASF dengan Mortalitas Hingga 100 Persen

Kamis, 8 Januari 2026 | 09:33 WIB
Ilustrasi, Peternak babi diminta meningkatkan biosekuriti kandang menyusul penghentian impor daging babi dari Spanyol akibat ancaman ASF. (Pixabay.com/tomwieden)

ARGO 24 JAM - Berapa besar risiko ekonomi yang mengintai sektor peternakan jika virus ASF kembali masuk ke Indonesia melalui jalur impor?

Apakah penghentian impor dari Spanyol cukup kuat menahan guncangan harga dan pasokan protein hewani nasional?

Kebijakan Impor Ketat untuk Menekan Risiko Ekonomi

Pemerintah Indonesia memberlakukan moratorium impor daging babi dari Spanyol akibat meningkatnya kasus ASF di Eropa.

Baca Juga: Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,1 Persen, Ini Faktor Pendukungnya

Langkah ini diambil untuk mencegah gangguan serius terhadap produksi ternak dan stabilitas harga protein hewani domestik.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyebut kebijakan ini bersifat kehati-hatian ekonomi.

“ASF bukan hanya isu kesehatan hewan, tetapi ancaman langsung terhadap mata pencaharian peternak,” ujarnya.

Baca Juga: Intervensi Beras Berlanjut 2026: SPHP 1,5 Juta Ton, Bantuan Pangan 4 Bulan untuk 18 Juta Keluarga

ASF Menyebabkan Kerugian Finansial Skala Besar

ASF menyebabkan kematian ternak secara massal tanpa opsi pengobatan atau vaksin efektif.

FAO mencatat kerugian global akibat ASF mencapai puluhan miliar Dolar AS dalam satu dekade terakhir.

Kondisi ini membuat banyak negara mengalami lonjakan harga daging dan gangguan distribusi pangan.

Baca Juga: Nikel RI Tembus Industri SpaceX Elon Musk, Sphere Masuk Smelter IMIP dengan Porsi 10 Persen

Spanyol dalam Peta Risiko Perdagangan Global

Spanyol tercatat sebagai salah satu eksportir produk babi terbesar dunia menurut data Uni Eropa.

Masuknya ASF ke wilayah tersebut meningkatkan risiko kontaminasi produk jika pengawasan lintas negara melemah.

Halaman:

Tags

Terkini