AGRO 24 JAM - Apakah konflik baru di Timur Tengah bisa kembali mengguncang ekonomi dunia yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan?
Seberapa besar dampak gejolak geopolitik tersebut terhadap harga energi, stabilitas pasar, dan kepercayaan investor global dalam beberapa bulan ke depan?
Ketegangan Timur Tengah Picu Risiko Baru Stabilitas Ekonomi Global
Ketahanan ekonomi global kembali menghadapi ujian baru setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi, sentimen pasar, serta pertumbuhan ekonomi dunia.
Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, menyampaikan peringatan tersebut dalam pidato pembukaan Asia in 2050 Conference di Bangkok, Thailand, Kamis (06/03/2026).
“Konflik ini, jika terbukti berkepanjangan, jelas berpotensi memengaruhi harga energi global, sentimen pasar, pertumbuhan, dan inflasi,” kata Georgieva dalam pidatonya.
Ketidakpastian Global Kini Menjadi Normal Baru Bagi Ekonomi Dunia
Menurut Georgieva, ekonomi global saat ini memasuki periode ketidakpastian berkepanjangan yang membuat berbagai guncangan ekonomi berpotensi muncul dalam berbagai bentuk dan skala.
Baca Juga: Misteri Emas Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, dari Tambang Sunda Hingga Simbol Kekuasaan Pajajaran
Ia menilai dinamika geopolitik, tekanan energi, dan perubahan rantai pasok global menjadi faktor utama yang membentuk lingkungan ekonomi baru bagi banyak negara.
Georgieva menyebut konflik geopolitik seperti yang terjadi di Timur Tengah dapat memperbesar tekanan inflasi global, terutama melalui kenaikan harga energi dan gangguan distribusi komoditas strategis.
Pasar Keuangan Asia Mulai Bereaksi Terhadap Ketegangan Energi Global
Georgieva mengatakan bahwa sebagian pasar saham di kawasan Asia telah mulai menunjukkan reaksi terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Pengalihan Impor Minyak Belum Selesaikan Masalah Ketahanan Energi Indonesia
Bagi banyak negara Asia, isu yang dipertaruhkan tidak hanya menyangkut stabilitas ekonomi, tetapi juga keamanan energi yang sangat bergantung pada pasokan global.
Menurutnya, ketergantungan terhadap impor energi membuat negara-negara Asia sangat sensitif terhadap gangguan pasokan minyak maupun gas dari kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Manipulasi IPO Jadi Alarm Investor, OJK Bekukan Miliaran Saham dan Lanjutkan Penyidikan Bersama Bareskrim
Ketegangan Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Lonjakan Harga Minyak Dunia
Gus Miftah Soroti Polemik MBG, Program Dinilai Baik Tetapi Pengelolaan Dapur Perlu Evaluasi
Ketegangan Iran - Israel Pengaruhi Jalur Energi Global, 2 Kapal Minyak Indonesia Tertahan di Hormuz
Evaluasi Besar BUMN Dimulai Danantara Fokus Perkuat Aset Negara Tata Kelola dan Kinerja Operasional
Penyelidikan KPK Soal Tambang Emas Tumpang Pitu Soroti Peralihan Izin Tambang dan Dugaan Pelanggaran
Pendapatan Negara Tumbuh Namun Belanja Lebih Cepat, APBN Februari 2026 Alami Defisit Rp135,7 Triliun
Cadangan Energi Nasional Pertamina Dijaga Hingga 35 Hari Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026
Krisis Selat Hormuz Jadi Alarm Ancaman Energi, Saat Harga Minyak Dunia Berpotensi Menembus 120 Dolar
Mahkota Binokasih dan Teknologi Empu Galuh, Bukti Keunggulan Metalurgi Nusantara Sebelum Era Industri