• Sabtu, 18 April 2026

Pasokan Minyak Tiongkok Aman di Tengah Krisis Selat Hormuz, Apa Dampaknya Bagi Keseimbangan Ekonomi Dunia

Photo Author
Tim 24 Jam News, Agro 24 Jam
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:30 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz. Kapal logistik energi global menghadapi kenaikan premi asuransi akibat risiko keamanan kawasan konflik. (Dok. Kreasi Dola AI)
Ilustrasi Selat Hormuz. Kapal logistik energi global menghadapi kenaikan premi asuransi akibat risiko keamanan kawasan konflik. (Dok. Kreasi Dola AI)

AGRO 24 JAM - Bagaimana investor bisa melindungi aset ketika konflik global tiba-tiba memicu gejolak pasar?

Instrumen apa yang justru berpotensi menguat ketika risiko energi meningkat?

Konflik Energi Global Memicu Pergeseran Strategi Investasi Modern Investor

Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz mendorong investor global meninjau ulang strategi portofolio untuk mengantisipasi lonjakan harga energi.

Baca Juga: Prabowo Sebut Danantara Bukti Reformasi. Korporasi Negara, Target Kontribusi Investasi Capai 50 Miliar Dolar AS

Situasi konflik biasanya mendorong peralihan dana ke aset defensif karena investor mencari perlindungan dari volatilitas pasar saham berisiko tinggi.

Fenomena ini terlihat dari pola historis ketika krisis Timur Tengah sering diikuti kenaikan harga komoditas energi dan logam mulia.

Emas dan Perak Kembali Menjadi Aset Lindung Nilai Utama

Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai utama karena kecenderungan nilainya naik ketika risiko geopolitik meningkat secara signifikan.

Baca Juga: Krisis Energi Global Mengintai Prabowo Siapkan Opsi Work From Home dan Efisiensi BBM Nasional

Perak juga ikut terdorong karena selain sebagai aset lindung nilai juga memiliki fungsi industri yang menjaga permintaan tetap stabil.

Data historis menunjukkan harga emas sering mencetak rekor baru ketika harga minyak dunia melewati kisaran 120 Dolar AS.

Saham Energi Global Diuntungkan dari Lonjakan Harga Minyak Dunia

Korporasi energi besar mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga minyak karena peningkatan margin laba dan arus kas operasional.

Baca Juga: Indonesia Menuju Swasembada Beras 2026, Stok BULOG Tembus 3,74 Juta Ton Dan Terus Bertambah

Kenaikan harga energi juga mendorong potensi dividen lebih besar serta program pembelian kembali saham oleh korporasi sektor energi.

Kondisi ini membuat sektor energi sering menjadi pilihan investor ketika terjadi tekanan inflasi akibat harga komoditas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X