Presiden dan CEO Federasi Ekspor Daging Amerika Serikat, Dan Halstrom, mengatakan perjanjian ini menghapus sejumlah hambatan impor yang sebelumnya berlaku di Indonesia.
Menurut Halstrom, implementasi kesepakatan memungkinkan ekspor daging sapi Amerika mencapai nilai 400 juta hingga 500 juta Dolar AS dalam waktu dekat.
Ia juga menyebut pembatasan izin impor produk daging babi yang sebelumnya berlaku kini berpotensi dilonggarkan melalui mekanisme baru perdagangan bilateral.
CEO Growth Energy, Emily Skor, menambahkan kebijakan campuran etanol nasional Indonesia hingga 10 persen dapat membuka pasar baru sebesar 900 juta galon bagi produsen energi Amerika.
Indonesia dalam Strategi Rantai Pasok Global dan Stabilitas Perdagangan Dunia
Kesepakatan ini muncul di tengah meningkatnya kompetisi rantai pasok global serta strategi diversifikasi pasar energi dan pangan dunia.
Sejumlah analis menilai Indonesia menjadi mitra strategis karena stabilitas ekonomi, populasi besar, serta pertumbuhan konsumsi domestik yang kuat.
Laporan Bank Dunia sebelumnya menempatkan Indonesia sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan konsumsi kelas menengah tercepat di Asia Tenggara.
Pemberitaan media juga menyoroti meningkatnya peran Indonesia dalam perdagangan energi transisi serta agribisnis regional.
Kementerian Perdagangan RI sebelumnya menegaskan setiap perjanjian dagang tetap mempertimbangkan perlindungan industri domestik dan ketahanan pangan nasional.
Analisis Dampak Terhadap Industri Nasional dan Hubungan Diplomatik Kedua Negara
Sejumlah ekonom menilai manfaat utama bagi Indonesia akan bergantung pada implementasi teknis dan keseimbangan arus perdagangan kedua negara.
Baca Juga: Rencana Impor Kendaraan Kopdes Tunggu Arahan Presiden, Pemerintah Hitung Dampak Ekonomi
Data USTR menunjukkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Amerika Serikat pada 2025 melampaui 38 miliar Dolar AS, menandakan hubungan ekonomi yang terus meningkat.