ekonomi

Ekonomi Indonesia Tumbuh, Tapi Tak Inklusif: Sektor Padat Modal Dominasi, Tenaga Kerja Tersisih

Selasa, 13 Januari 2026 | 11:50 WIB
Ilustrasi, Pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil, namun penciptaan lapangan kerja formal belum sejalan dengan laju PDB nasional. (Dok. Kreasi Dola AI)

ARGO 24 JAM  - Mengapa ekonomi Indonesia mampu tumbuh stabil di kisaran 5%, tetapi jutaan orang tetap kesulitan memperoleh pekerjaan layak?

Apakah pertumbuhan ekonomi saat ini benar-benar mencerminkan perbaikan kesejahteraan masyarakat luas, atau justru menyembunyikan persoalan struktural pasar kerja?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5% dalam beberapa tahun terakhir kembali menimbulkan sorotan, seiring tingginya tingkat pengangguran dibanding negara ASEAN lainnya.

Baca Juga: Kritik Lewat Humor: Stand Up Mens Rea Pandji Pragiwaksono dan Dinamika Demokrasi Indonesia

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Indonesia masih berada di kisaran 5%, tertinggi di antara negara Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi serupa.

Dana Moneter Internasional mencatat Indonesia tetap tumbuh resilien, namun kualitas pertumbuhan dinilai belum sepenuhnya inklusif terhadap penciptaan lapangan kerja formal.

Pertumbuhan Ekonomi Didorong Sektor Padat Modal Berteknologi Tinggi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai semakin bertumpu pada sektor padat modal.

Baca Juga: Strategi Presiden: Prabowo Subianto Pilih “Buta Nama” Korporasi Demi Integritas Penegakan Hukum

Sektor pertambangan, komoditas, dan manufaktur berbasis teknologi menyumbang PDB besar tetapi memiliki daya serap tenaga kerja terbatas.

Pertumbuhan tetap tinggi, tetapi lapangan kerja tidak bertambah signifikan karena mesin dan teknologi menggantikan banyak fungsi manusia.

Kondisi tersebut berbeda dengan sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki yang justru mengalami tekanan akibat perlambatan permintaan global.

Baca Juga: Akuisisi SariWangi Jadi Langkah Strategis Grup Djarum Perluas Portofolio FMCG Minuman

Elastisitas Tenaga Kerja Terus Mengalami Penurunan Signifikan

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan elastisitas tenaga kerja Indonesia mengalami tren penurunan dalam satu dekade terakhir.

Ia menyebut setiap 1% pertumbuhan ekonomi kini hanya mampu menyerap sekitar 100 ribu hingga 200 ribu tenaga kerja baru.

Halaman:

Tags

Terkini