Ia menilai perubahan regulasi yang cepat meningkatkan uncertainty cost bagi investor, kondisi ini berdampak langsung pada keputusan investasi jangka panjang.
Baca Juga: Saat Banjir Belum Surut, Wapres Gibran Dengar Langsung Kritik Mahasiswa Soal Kerusakan Lingkungan
Chatib Basri menambahkan isu lingkungan dan ESG kini menjadi pertimbangan utama investor global.
Proyek yang berisiko merusak lingkungan cenderung dihindari lembaga keuangan internasional, hal ini mempersempit ruang pembiayaan proyek strategis.
Data OECD menunjukkan lebih dari 60 persen dana investasi global kini mempertimbangkan standar ESG.
Indonesia perlu menyesuaikan desain proyek agar selaras dengan tren tersebut, tanpa itu, arus modal swasta berpotensi terus tertahan.****
Artikel Terkait
Tarif Listrik Awal 2026 Stabil, ESDM Prioritaskan Daya Beli dan Kepastian Usaha
Miliarder Teknologi Elon Musk di Puncak Dunia: Hartanya Setara dengan PDB Negara Maju
Telepon Subuh Mentan Amran Gagalkan Penyelundupan Bawang Bombay Ilegal 133,5 Ton di Semarang
Obligasi Dolar AS Indonesia Raih BBB dari Fitch, Ini Faktor ESG dan Risiko Penurunan Peringkat
Pelita Air Service Rugi Puluhan Juta Dolar AS, CBA Mendorong Perombakan Manajemen
Krisis Lingkungan Kalimantan Selatan: Mahasiswa Nilai Banjir Akibat Tata Kelola SDA Bermasalah
Daya Beli Melemah, Apindo Soroti Tantangan Kejar Target Pajak Tahuj 2026 Rp 2.357,7 Triliun
Dugaan Kasus Kripto Timothy Ronald: Dari Influencer Finansial ke Laporan Kerugian Miliaran
Wirastuty Fangiono Masuk Forbes 2025, Konglomerat Perempuan Termuda Berharta 1,4 Miliar Dolar AS
Kementerian Kehutanan Sita 1 Juta Hektar PBPH, 23 Subjek Hukum Disidik Pascabanjir Sumatera