• Sabtu, 18 April 2026

Warga Pesanggaran Soroti Dampak Tambang Emas Tumpang Pitu Terhadap Air Laut dan Kehidupan Nelayan

Photo Author
Tim 24 Jam News, Agro 24 Jam
- Selasa, 10 Maret 2026 | 15:55 WIB
Ilustrasi tambang emas. Kawasan pesisir selatan Banyuwangi di sekitar tambang Tumpang Pitu menjadi perhatian terkait ekosistem laut dan aktivitas nelayan. (Dok. Kreasi Dola AI)
Ilustrasi tambang emas. Kawasan pesisir selatan Banyuwangi di sekitar tambang Tumpang Pitu menjadi perhatian terkait ekosistem laut dan aktivitas nelayan. (Dok. Kreasi Dola AI)

“Dulu kami hidup dari bertani dan melaut dengan tenang, sekarang setiap hari kami mendengar ledakan dan melihat debu,” ujar tokoh masyarakat tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Diminta Fokus Program Prioritas Ekonomi, Jusuf Kalla Soroti Ketidakseimbangan Fiskal Saat Ini

Menurutnya, sebagian warga merasa seperti menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri karena perubahan ekonomi berlangsung cepat tanpa kesiapan sosial yang memadai.

Kekhawatiran Lingkungan dan Sumber Air Mulai Dirasakan Warga Sekitar

Selain aspek ekonomi, warga juga menyoroti perubahan kondisi lingkungan sejak aktivitas pertambangan berlangsung secara intensif.

Beberapa warga menyampaikan kekhawatiran terkait kondisi sumber air yang mengalami perubahan debit atau kualitas di sejumlah titik pemukiman.

Baca Juga: Pemerintah Tambah Likuiditas Bank Rp100 Triliun untuk Dorong Kredit Sektor Riil dan Pertumbuhan Ekonomi

Hutan yang sebelumnya menjadi area resapan air mengalami perubahan fungsi menjadi kawasan pertambangan terbuka setelah proses land clearing.

Aktivitas pertambangan juga dikhawatirkan berdampak terhadap wilayah pesisir apabila limpasan material terbawa hujan menuju muara sungai.

Tokoh masyarakat setempat menyebut kekhawatiran warga bukan hanya soal tambang saat ini, tetapi juga masa depan lingkungan bagi generasi berikutnya.

Baca Juga: Richard Lee Ditahan Polisi Setelah Kasus Skincare, Publik Pertanyakan Regulasi Produk Kecantikan

Perdebatan Publik Soal Tata Kelola Tambang dan Keberlanjutan Lingkungan

Isu pertambangan di Tumpang Pitu tidak hanya menjadi perdebatan di tingkat lokal, tetapi juga menarik perhatian publik nasional.

Berbagai kelompok masyarakat sipil mendorong transparansi mengenai pengelolaan lingkungan, reklamasi pasca tambang, serta distribusi manfaat ekonomi.

Diskusi publik juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara eksploitasi sumber daya alam dan perlindungan ekosistem pesisir selatan Jawa.

Baca Juga: Pemerintah Tambah Likuiditas Bank Rp100 Triliun untuk Dorong Kredit Sektor Riil dan Pertumbuhan Ekonomi

Tokoh masyarakat Pesanggaran mengatakan istilah “Numpang Pilu” muncul sebagai simbol kekecewaan sebagian warga terhadap perubahan yang terjadi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X