ARGO 24 JAM - Benarkah ketegangan geopolitik global dapat mengganggu ketahanan pangan Indonesia dalam waktu dekat?
Seberapa kuat cadangan beras nasional menghadapi ancaman kekeringan dan perubahan iklim pada 2026?
Ketegangan Geopolitik Global Memicu Kekhawatiran Stabilitas Pangan Nasional Indonesia
Ketegangan geopolitik global dan ancaman perubahan iklim mendorong pemerintah memperkuat sistem pemantauan produksi serta stok pangan nasional.
Baca Juga: Kebijakan Likuiditas Rp100 Triliun Jadi Strategi Jaga Stabilitas Perbankan dan Pertumbuhan Ekonomi
Kementerian Pertanian menggelar rapat koordinasi untuk memastikan langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan dan gangguan pasokan pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memantau produksi serta distribusi pangan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman,” kata Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Minggu (08/03/2026).
Baca Juga: Mengapa Richard Lee Ditahan Polisi dalam Kasus Skincare, Ini Fakta Penyidikan Polda Metro Jaya
Ia menyebut produksi beras nasional saat ini berada pada kisaran 2,6 juta hingga 5,7 juta ton per bulan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan konsumsi nasional yang rata-rata mencapai sekitar 2,59 juta ton per bulan.
Ketersediaan Beras Nasional Capai Hampir Dua Puluh Delapan Juta Ton
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, total ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 27,99 juta ton pada Maret 2026.
Cadangan tersebut terdiri dari stok Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton yang berfungsi sebagai cadangan pemerintah.
Selain itu, stok beras masyarakat diperkirakan mencapai sekitar 12,50 juta ton yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.