ekonomi

Utang Luar Negeri Tumbuh Lebih Cepat dari Devisa, Bagaimana Nasib Stabilitas Rupiah Selanjutnya

Rabu, 8 April 2026 | 10:15 WIB
Managing Director PEPS Anthony Budiawan. Perbandingan data utang luar negeri dan cadangan devisa Indonesia dalam satu dekade terakhir. (Dok. Instagram @anthony _budiawan)

AGRO 24 JAM - Mengapa rupiah belum menunjukkan penguatan meski cadangan devisa terus bertambah?

Apakah peningkatan utang luar negeri menjadi faktor tersembunyi di balik tekanan nilai tukar Indonesia?

Melemahnya Rupiah Picu Pertanyaan Tentang Kekuatan Fundamental Ekonomi Nasional

Pergerakan rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.000 per Dolar AS memicu diskusi baru mengenai ketahanan fundamental ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Tax Ratio Indonesia Turun Ke 9,31 Persen, Reformasi Perpajakan Mendesak untuk Jaga Penerimaan Negara

Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, menilai pelemahan rupiah perlu dilihat melalui struktur pembiayaan eksternal yang menopang cadangan devisa.

Ia mengatakan narasi penguatan rupiah harus didukung struktur ekonomi yang sehat dan bukan sekadar indikator nominal cadangan devisa.

Anthony Budiawan menyebut selama 2014 sampai 2025 cadangan devisa meningkat dari 111,9 miliar menjadi 156,5 miliar Dolar AS.

Baca Juga: Melihat Konflik Iran - Israel dari Perspektif Psikologi Politik dan Dampaknya Pada Solidaritas Dunia Islam

Namun dalam periode sama utang luar negeri melonjak dari 292 miliar menjadi 431,7 miliar Dolar AS.

Data Utang dan Devisa Ungkap Tantangan Stabilitas Ekonomi Jangka Panjang

Anthony Budiawan menilai perbandingan data tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara peningkatan utang dan penambahan cadangan devisa nasional.

Ia menyebut sebagian besar dana eksternal digunakan menutup defisit transaksi primer sehingga tidak sepenuhnya memperkuat posisi keuangan negara.

Baca Juga: Sawit Ilegal Masuk Kawasan Konservasi, Pemerintah Pulihkan Ekosistem Mangrove Sumatera Utara

Menurut Anthony Budiawan defisit neraca pembayaran primer yang mencapai 397,9 miliar Dolar AS menjadi indikator tekanan struktural ekonomi.

Ia mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam merumuskan kebijakan penguatan ekonomi berkelanjutan.

Halaman:

Tags

Terkini