• Sabtu, 18 April 2026

Utang Luar Negeri Tumbuh Lebih Cepat dari Devisa, Bagaimana Nasib Stabilitas Rupiah Selanjutnya

Photo Author
Tim 24 Jam News, Agro 24 Jam
- Rabu, 8 April 2026 | 10:15 WIB
Managing Director PEPS Anthony Budiawan. Perbandingan data utang luar negeri dan cadangan devisa Indonesia dalam satu dekade terakhir. (Dok. Instagram @anthony _budiawan)
Managing Director PEPS Anthony Budiawan. Perbandingan data utang luar negeri dan cadangan devisa Indonesia dalam satu dekade terakhir. (Dok. Instagram @anthony _budiawan)

Anthony Budiawan menegaskan kualitas pembiayaan ekonomi harus menjadi fokus selain mengejar pertumbuhan investasi asing.

Baca Juga: Kenaikan Biaya Haji 2026 Jadi Sorotan, DPR Pastikan Skema Pembiayaan Tidak Ganggu Dana Jemaah

Investasi Asing Dan Risiko Pembayaran Balik Dalam Siklus Ekonomi

Anthony Budiawan menjelaskan investasi asing langsung memang penting untuk pertumbuhan namun memiliki konsekuensi pembayaran keuntungan ke investor.

Ia mencatat nilai investasi asing langsung mencapai 241,9 miliar Dolar AS dalam periode pengamatan.

Menurutnya pembayaran dividen dan repatriasi keuntungan berpotensi memperbesar defisit neraca pembayaran primer di masa depan.

Baca Juga: Dinamika Konflik Timur Tengah 2026 dan Pengaruhnya Terhadap Opini Publik Muslim, Termasuk Indonesia

Anthony Budiawan menyatakan strategi hilirisasi dan industrialisasi dapat membantu meningkatkan nilai tambah ekonomi domestik.

Ia menilai kebijakan tersebut perlu konsisten agar manfaat investasi asing lebih besar bagi perekonomian nasional.

Faktor Geopolitik Global Jadi Variabel Tambahan Pergerakan Kurs Rupiah

Anthony Budiawan menilai dinamika geopolitik seperti konflik Iran dapat memicu volatilitas pasar keuangan global.

Baca Juga: Defisit APBN Tetap Aman Meski Belanja Negara Naik, Pajak Jadi Penopang Fiskal Indonesia Awal Tahun 2026

Ia mengatakan ketidakpastian global biasanya mendorong investor memindahkan dana ke instrumen berisiko rendah.

Menurut Anthony Budiawan kondisi tersebut berpotensi memicu capital outflow dari pasar negara berkembang.

“Risiko krisis nilai tukar bisa muncul jika tekanan eksternal bertemu kelemahan struktural domestik,” kata Anthony Budiawan.

Baca Juga: Pulau Kharg dari 'Mutiara Yatim Teluk Persia' Menjadi Simbol Strategi Energi Iran Kontemporer Global

Ia menekankan pentingnya reformasi struktural untuk memperkuat daya tahan ekonomi terhadap guncangan global.****

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Banny Rachman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X