ARGO 24 JAM - Mengapa impor energi masih menjadi beban besar bagi ekonomi Indonesia setiap tahun?
Apakah percepatan energi terbarukan benar-benar mampu menekan impor bahan bakar dan subsidi energi negara?
Pemerintah mempercepat kebijakan energi baru terbarukan untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi yang selama ini mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Baca Juga: Konflik Iran - AS Memanas, Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia Hingga 78 Dolar
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan langsung dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan pada Kamis (5/3/2026) untuk mempercepat implementasi sejumlah program energi strategis.
Tiga kebijakan utama yang diprioritaskan adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, konversi kendaraan listrik, serta penggantian kompor LPG menjadi kompor listrik.
Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan langkah tersebut dirancang untuk mengurangi tekanan impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
“Presiden meminta percepatan pelaksanaan program agar ketergantungan terhadap impor energi bisa dikurangi,” ujar Brian Yuliarto.
Ketergantungan Impor Energi Jadi Tantangan Ketahanan Energi Nasional Indonesia
Indonesia masih menghadapi tantangan ketergantungan terhadap impor energi terutama bahan bakar minyak dan LPG untuk kebutuhan domestik.
Ketergantungan tersebut membuat ekonomi nasional rentan terhadap fluktuasi harga energi global.
Baca Juga: Langkah Diplomasi Prabowo Bahas Board Of Peace dan Stabilitas Nasional Bersama Tokoh Politik
Pemerintah karena itu mulai mempercepat strategi diversifikasi energi dengan meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan.
Brian Yuliarto mengatakan langkah ini menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor energi.