ekonomi

Agrinas Taat Arahan Negara Terkait Impor Pikap Kopdes, Keputusan Final Menunggu Evaluasi Pemerintah

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:25 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan potensi dampak ekonomi Rp27 triliun jika kebutuhan pikap Kopdes dipenuhi melalui produksi nasional Indonesia. (Dok. kemenperin.go.id)

AGRO 24 JAM - Apakah impor ratusan ribu mobil operasional desa benar-benar kebutuhan mendesak bagi Indonesia saat ini?

Apakah keputusan menunda impor justru menjadi momentum memperkuat industri otomotif nasional sekaligus menjaga kemandirian ekonomi domestik?

Rencana Impor Pikap Kopdes Picu Perdebatan Industri Otomotif Nasional

Rencana impor 105.000 kendaraan operasional untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih memicu diskusi kebijakan industri, ekonomi nasional, serta keberpihakan pemerintah terhadap produksi dalam negeri.

Baca Juga: Stimulus Likuiditas Berlanjut, Penempatan Dana Rp200 Triliun untuk Dorong Kredit Tumbuh Double Digit

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menegaskan pihaknya siap mengikuti arahan negara terkait penundaan impor kendaraan dari India.

“Dari DPR bilang apa kami ikut, pemerintah bilang apa kami ikut, pokoknya kami taat dan loyal kepada negara serta rakyat,” ujar Joao di Jakarta, Senin (23/02/2026).

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad meminta pemerintah menunda rencana impor karena Presiden Prabowo Subianto masih melakukan kunjungan kerja luar negeri.

Baca Juga: Impor 105 Ribu Pick Up India Dipersoalkan, Soroti Arah Industrialisasi dan Masa Depan Industri Otomotif

Dasco menilai keputusan strategis tersebut perlu dibahas langsung oleh Presiden dengan mempertimbangkan kesiapan industri otomotif nasional.

Pemerintah Dorong Kemandirian Produksi Kendaraan Operasional Dalam Negeri

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Indonesia telah memiliki kapasitas produksi kendaraan pikap yang memadai dan kompetitif secara industri.

Menurut Menperin, pengadaan 70.000 unit pikap melalui produksi nasional berpotensi menciptakan dampak ekonomi ke belakang hingga Rp27 triliun.

Baca Juga: Kasus Penyelundupan Timah Bangka Selatan Terungkap, Polisi Telusuri Jaringan Ekspor Ilegal

Dampak tersebut meliputi penguatan rantai pasok industri komponen, penyerapan tenaga kerja manufaktur, serta peningkatan aktivitas industri pendukung otomotif nasional.

Pernyataan tersebut memperkuat posisi pemerintah dalam mendorong substitusi impor dan memperbesar kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi.

Halaman:

Tags

Terkini