AGRO 24 JAM - Apakah perang di Timur Tengah bisa langsung menggerus stabilitas keuangan Indonesia melalui lonjakan harga energi global?
Seberapa kuat APBN Indonesia menahan tekanan jika konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat berkepanjangan hingga hampir setahun?
Dampak Perang Global Terhadap Stabilitas Fiskal dan Defisit APBN Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan skenario dampak perang Asia Barat terhadap defisit APBN dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara Jakarta Jumat (14/03/2026).
Airlangga Hartarto menyatakan defisit APBN berpotensi menembus 4,06 persen jika harga minyak dunia mencapai 115 Dolar AS per barel.
Ia menjelaskan pemerintah menghadapi dilema menjaga defisit tiga persen tanpa memangkas belanja atau menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini dijaga di atas lima persen.
Skenario Harga Minyak Dunia dan Tekanan Kurs Rupiah Nasional
Airlangga memaparkan tiga simulasi berdasarkan durasi konflik yang mempengaruhi harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, imbal hasil SBN, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam skenario moderat pertama, ICP diperkirakan 86 Dolar AS per barel dengan kurs Rp17.000 dan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen menghasilkan defisit sekitar 3,18 persen.
Skenario kedua memperkirakan ICP 97 Dolar AS per barel, kurs Rp17.300, pertumbuhan 5,2 persen, serta yield SBN 7,2 persen sehingga defisit meningkat menjadi 3,53 persen.
Strategi Pemerintah Menjaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Risiko Global
Airlangga menegaskan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap menjadi prioritas pemerintah meskipun tekanan eksternal meningkat akibat konflik geopolitik dan volatilitas harga komoditas global.
“Defisit yang tiga persen sulit kita pertahankan kecuali kita memotong belanja dan pertumbuhan,” kata Airlangga saat melaporkan kondisi fiskal kepada Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut menunjukkan pemerintah masih mengedepankan keseimbangan antara disiplin fiskal dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi dalam menghadapi ketidakpastian global.