AGRO 24 JAM - Apakah dunia sedang memasuki kembali era perlombaan senjata nuklir setelah puluhan tahun relatif stabil?
Mengapa Prancis tiba-tiba memperkuat arsenal nuklirnya saat konflik global meningkat dan ketidakpastian keamanan Eropa makin nyata?
Prancis Perkuat Deterensi Nuklir di Tengah Ketegangan Global Meningkat
Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu (2/3/2026) mengumumkan langkah strategis memperkuat postur pertahanan nuklir nasional sebagai respons atas dinamika keamanan internasional yang semakin tidak stabil.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Pasokan Energi Global Terganggu dan Ekonomi Indonesia Hadapi Tekanan Baru
Kebijakan tersebut mencakup peningkatan jumlah hulu ledak nuklir, penghentian transparansi stok senjata, serta percepatan modernisasi sistem persenjataan strategis berbasis udara dan laut.
Dalam pernyataannya, Macron mengatakan kekuatan nuklir Prancis berfungsi sebagai instrumen pencegahan strategis demi menjaga stabilitas internasional dan melindungi kepentingan keamanan Eropa secara lebih luas.
Penambahan Hulu Ledak Nuklir Ubah Doktrin Pertahanan Prancis Modern
Prancis selama beberapa dekade mempertahankan stok sekitar 290 hulu ledak nuklir, angka yang relatif stabil sejak akhir Perang Dingin berdasarkan laporan berbagai media arus utama Eropa.
Keputusan menambah hulu ledak nuklir menandai perubahan signifikan kebijakan pertahanan Prancis yang sebelumnya berfokus pada stabilitas kapasitas deterrence minimal.
Macron menegaskan peningkatan tersebut bertujuan menghilangkan spekulasi mengenai kemampuan nuklir Prancis sekaligus memperkuat kredibilitas efek pencegahan terhadap ancaman strategis global.
Langkah ini juga diikuti keputusan pemerintah menghentikan publikasi jumlah pasti arsenal nuklir nasional demi alasan keamanan strategis negara.
Modernisasi Rudal Rafale dan Kapal Selam Tingkatkan Kapabilitas Strategis
Modernisasi persenjataan melibatkan operasionalisasi rudal jelajah nuklir ASMPA-R yang kini terintegrasi pada jet tempur Rafale milik angkatan udara Prancis.
Rudal ASMPA-R memiliki jangkauan sekitar 600 kilometer dengan kecepatan hingga Mach 3 sehingga meningkatkan fleksibilitas respons militer dalam skenario konflik berintensitas tinggi.
Selain itu, pengembangan rudal balistik antarbenua M51 berbasis kapal selam terus dilakukan dengan jangkauan sekitar 8.000 kilometer sebagai bagian dari sistem deterrence laut Prancis.