Pertumbuhan uang primer atau M0 tercatat meningkat 11,7 persen pada pekan pertama Februari 2026 sebagai indikator meningkatnya ruang ekspansi kredit.
Baca Juga: Rencana ANTAM Masuk Tambang Rakyat Diawasi KPK, Tata Kelola dan Dampak Sosial Jadi Fokus Pemerintah
Data Kredit dan Suku Bunga Menunjukkan Dampak Positif Kebijakan Likuiditas
Purbaya menjelaskan pertumbuhan kredit nasional mencapai sekitar 10 persen pada Januari 2026 dengan tren suku bunga pinjaman semakin kompetitif.
Suku bunga kredit tercatat berada di level 8,80 persen, turun dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 9,12 persen.
“Pertumbuhan M0 sebesar 11,7 persen memberi ruang kredit tumbuh double digit dan Bank Indonesia berkomitmen mendukung kebijakan ini,” ujar Purbaya.
Baca Juga: Proyek Emas Pani Gorontalo Mulai Produksi Perdana, Bagaimana Dampaknya Industri Emas ke Depan
Penempatan dana pemerintah sebelumnya dialokasikan kepada korporasi perbankan BUMN untuk memperkuat pembiayaan sektor produktif.
Dana tersebut ditempatkan pada BRI Rp55 triliun, BNI Rp55 triliun, BTN Rp25 triliun, dan BSI Rp10 triliun sebagai stimulus likuiditas.
Evaluasi September 2026 Menjadi Penentu Arah Kebijakan Stimulus Selanjutnya
Purbaya menyatakan pemerintah akan mengevaluasi efektivitas kebijakan pada September 2026 setelah periode perpanjangan selesai.
Ia berharap likuiditas yang terjaga mampu mendorong percepatan berbagai program prioritas pemerintah dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
Langkah ini melanjutkan strategi fiskal ekspansif yang sejak pandemi Covid-19 sering digunakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Sejumlah laporan media arus utama sebelumnya menunjukkan kebijakan penempatan dana pemerintah menjadi instrumen penting menjaga kredit tetap tumbuh saat ekonomi global melambat.
Baca Juga: Sertifikasi Halal dan Diplomasi Ekonomi, Mengapa Regulasi Kini Jadi Perhatian Mitra Dagang
Dengan dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi, pemerintah optimistis momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga sepanjang 2026.****