AGRO 24 JAM - Apakah lonjakan penerimaan pajak di awal tahun menandakan ekonomi Indonesia benar-benar menguat setelah berbagai tekanan global?
Bagaimana strategi pemerintah menjaga daya beli masyarakat ketika belanja negara meningkat tajam sejak awal tahun anggaran berjalan?
Lonjakan Penerimaan Pajak Jadi Indikator Aktivitas Ekonomi Semakin Meningkat
Realisasi APBN 2026 hingga Jumat (31/01/2026) memperlihatkan sinyal penguatan ekonomi melalui pertumbuhan penerimaan negara yang cukup solid.
Pendapatan negara tercatat Rp172,7 triliun atau tumbuh 9,5 persen secara tahunan, ditopang lonjakan penerimaan pajak sebesar Rp116,2 triliun.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai peningkatan pajak 30,7 persen menunjukkan adanya perbaikan aktivitas ekonomi sekaligus efektivitas administrasi perpajakan pemerintah.
Menurutnya, sektor industri pengolahan dan perdagangan menjadi penyumbang utama pertumbuhan pajak yang mencerminkan meningkatnya produksi serta konsumsi domestik.
Baca Juga: Rencana ANTAM Masuk Tambang Rakyat Diawasi KPK, Tata Kelola dan Dampak Sosial Jadi Fokus Pemerintah
Pertumbuhan pajak awal tahun sering digunakan sebagai indikator awal arah pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang satu tahun fiskal berjalan.
Belanja Negara Agresif untuk Menopang Konsumsi dan Program Sosial
Realisasi belanja negara mencapai Rp227,3 triliun atau naik 25,7 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebagai strategi menjaga momentum ekonomi.
Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan percepatan belanja difokuskan pada program prioritas pemerintah untuk melindungi daya beli masyarakat.
Baca Juga: Rencana ANTAM Masuk Tambang Rakyat Diawasi KPK, Tata Kelola dan Dampak Sosial Jadi Fokus Pemerintah
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyerap anggaran Rp19,5 triliun pada Januari 2026, meningkat drastis dibandingkan Rp45 miliar pada periode Januari 2025.
Pemerintah juga mempercepat belanja pada revitalisasi sekolah, bantuan sosial, pembangunan irigasi, ketahanan pangan, dan pembayaran belanja pegawai.