• Sabtu, 18 April 2026

Rp50 Triliun Kasus Jiwasraya dan Asabri Jadi Ujian Serius Reformasi Pasar Modal di Tengah Sorotan MSCI

Photo Author
Tim 24 Jam News, Agro 24 Jam
- Sabtu, 7 Februari 2026 | 16:50 WIB
Ekonom dan politikus, Laksamana Sukardi. Kasus Jiwasraya dan ASABRI dengan kerugian sekitar Rp50 triliun disebut sebagai alarm penting pembenahan sistemik pasar modal Indonesia. (Instagram.com, @@laksamana_sukardi)
Ekonom dan politikus, Laksamana Sukardi. Kasus Jiwasraya dan ASABRI dengan kerugian sekitar Rp50 triliun disebut sebagai alarm penting pembenahan sistemik pasar modal Indonesia. (Instagram.com, @@laksamana_sukardi)

AGRO 24JAM - Apakah peringatan lembaga indeks global mampu mengguncang kebijakan ekonomi dalam negeri lebih kuat dibanding undang-undang dan parlemen?

Mengapa reaksi baru muncul ketika pasar internasional bereaksi, bukan saat masalah tata kelola pasar modal telah lama terdeteksi?

Peran Indeks Global Mengguncang Kepercayaan Pasar Modal Indonesia

Peringatan lembaga indeks global MSCI (Morgan Stanley Capital International) kembali menyoroti tata kelola pasar modal Indonesia yang dinilai memerlukan pembenahan struktural dan penguatan kepercayaan investor.

Baca Juga: APBI Protes RKAB 2026 Dipotong Besar, ESDM Gunakan PNBP Sebagai Acuan Penentuan Produksi

Ekonom dan politikus Laksamana Sukardi menilai peran MSCI sangat signifikan karena keputusannya berpengaruh langsung terhadap persepsi investor global terhadap pasar modal domestik.

Menurut Laksamana Sukardi, banyak pejabat baru bereaksi setelah sinyal MSCI muncul, padahal masalah struktural di pasar modal telah lama diketahui pelaku industri.

Ia menyebut MSCI kerap dipandang sebagai alarm utama yang menentukan arah kepercayaan pasar, sekaligus menjadi indikator moral bagi tata kelola investasi di Indonesia.

Baca Juga: Gugatan Lingkungan Rp200,99 Miliar Muncul, UT Tegaskan Tambang Martabe Tetap Beroperasi Normal

Kasus Jiwasraya dan Asabri Jadi Alarm Sistemik Pasar

Indonesia pernah menghadapi skandal besar Jiwasraya dan ASABRI yang menyebabkan kerugian sekitar Rp50 triliun akibat dugaan manipulasi pasar modal yang sistemik.

Menurut Laksamana Sukardi, kasus tersebut seharusnya menjadi momentum reformasi menyeluruh, namun perbaikan struktural dinilai belum dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Ia menilai absennya kemarahan institusional dan pembersihan sistemik membuat pelajaran penting dari kerugian besar tersebut tidak sepenuhnya diterapkan dalam kebijakan.

Baca Juga: Kebijakan Baru SDA 2026: Izin Tambang dan Energi Diprioritaskan BUMN Usai PNBP SDA Turun Tajam

Kondisi ini membuat peringatan eksternal seperti dari MSCI kembali menjadi perhatian utama, meski akar persoalan sebenarnya telah lama teridentifikasi di dalam negeri.

Konflik Kepentingan Dinilai Jadi Tantangan Utama Reformasi Sistemik

Laksamana Sukardi menyatakan tantangan utama bukan kekurangan regulasi atau sumber daya manusia, melainkan konflik kepentingan yang berpotensi memengaruhi kebijakan dan pengawasan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X