ekonomi

Kebijakan Likuiditas Rp100 Triliun Jadi Strategi Jaga Stabilitas Perbankan dan Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 9 Maret 2026 | 13:25 WIB
Menteri Keuangan Purbaya menjelaskan rencana tambahan likuiditas Rp100 triliun bagi sektor perbankan untuk menjaga stabilitas kredit dan mendorong pembiayaan sektor riil di tengah tekanan ekonomi global. (Instagram.com @Menkeuri)

Jika suku bunga kredit stabil, sektor usaha kecil menengah hingga korporasi besar berpeluang mempertahankan aktivitas investasi.

Baca Juga: TASPEN Pastikan THR Pensiunan Cair Tepat Waktu, 97 Persen Dana Sudah Diterima Jutaan Peserta Pensiun

Kondisi ini dinilai penting karena kredit perbankan merupakan salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Stabilitas sistem perbankan juga menjadi faktor kunci untuk menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

Prioritas Pembiayaan Hilirisasi Industri Transisi Energi dan Ketahanan Pangan Nasional

Tambahan likuiditas yang direncanakan pemerintah diperkirakan akan diarahkan pada sektor-sektor strategis yang memiliki dampak besar terhadap ekonomi nasional.

Baca Juga: Khalid Basalamah Ajak Masyarakat Lebih Objektif Menilai Kebijakan Pemerintah dan Kondisi Negara

Sektor hilirisasi industri menjadi salah satu prioritas karena berkaitan langsung dengan peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Selain itu, pembiayaan untuk proyek transisi energi juga dipandang penting dalam mendukung transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Pemerintah juga menaruh perhatian pada sektor ketahanan pangan yang berperan menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok.

Baca Juga: Dari Edukator Skincare Ke Tersangka, Richard Lee Ditahan Polisi dalam Kasus Produk Kecantikan

Dengan dukungan pembiayaan yang cukup, sektor pertanian dan agrikultur diharapkan memiliki arus kas yang lebih stabil.

Kombinasi sektor industri, energi, dan pangan dinilai mampu memberikan efek berganda bagi perekonomian domestik.

Tantangan Implementasi Kebijakan Likuiditas Bergantung Permintaan Kredit Dunia Usaha

Meski dana tersedia, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada permintaan kredit dari dunia usaha.

Jika pelaku usaha masih menunggu perkembangan ekonomi global, penyaluran kredit bisa berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Dalam kondisi tersebut, likuiditas berlebih berpotensi dialihkan bank ke instrumen keuangan seperti surat berharga negara.

Halaman:

Tags

Terkini