• Sabtu, 18 April 2026

Papua Nugini Uji Coba 4 Hari Kerja untuk Efisiensi BBM dan Stabilitas Fiskal Negara Berkembang Modern

Photo Author
Budi Purnomo, Agro 24 Jam
- Senin, 23 Maret 2026 | 13:30 WIB
Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape. WFH mingguan di Papua Nugini dinilai sebagai langkah awal menuju sistem kerja fleksibel berbasis efisiensi energi modern. (Dok. Twitter @JamesMarape)
Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape. WFH mingguan di Papua Nugini dinilai sebagai langkah awal menuju sistem kerja fleksibel berbasis efisiensi energi modern. (Dok. Twitter @JamesMarape)

AGRO 24 JAM - Apakah meliburkan satu hari kerja bisa menjadi solusi krisis energi nasional?

Mungkinkah pembatasan mobilitas mingguan menjadi strategi realistis menekan subsidi BBM tanpa menaikkan pajak masyarakat?

Kebijakan Libur Rabu Papua Nugini untuk Menekan Konsumsi Energi Nasional

Pemerintah Papua Nugini menetapkan kebijakan libur atau kerja dari rumah setiap Rabu sebagai langkah penghematan energi akibat tekanan harga minyak global.

Baca Juga: Didik J Rachbini Soroti Peran Regenerasi Kepemimpinan dalam Keberhasilan Korporasi Keluarga Besar Indonesia

Kebijakan ini diumumkan Perdana Menteri James Marape sebagai bagian strategi nasional mengurangi konsumsi bahan bakar kendaraan sektor publik.

James Marape yang menjabat Perdana Menteri Papua Nugini sejak 2019 menyatakan pengurangan mobilitas mingguan dapat memangkas konsumsi BBM signifikan tanpa mengganggu pelayanan publik esensial.

Menurut Marape, kebijakan ini juga mendorong perubahan pola kerja modern berbasis digital yang lebih hemat biaya operasional dan adaptif terhadap tekanan ekonomi global.

Baca Juga: Strategi Bisnis News Center Hubungkan Korporasi dengan Investor dan Lewat Jaringan Media Ekonomi

Tekanan Subsidi BBM dan Stabilitas Fiskal Jadi Pertimbangan Utama Pemerintah

Menteri Keuangan Ian Ling-Stuckey menyatakan kebijakan tersebut penting untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah lonjakan subsidi energi nasional.

Ian Ling-Stuckey menjelaskan subsidi BBM yang meningkat tajam berpotensi memperlebar defisit anggaran jika konsumsi tidak dikendalikan.

Ia mengatakan pengurangan permintaan domestik menjadi opsi rasional dibandingkan menambah beban utang luar negeri atau menaikkan harga energi bagi masyarakat.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Melonjak, Dampaknya Terhadap Stabilitas Rupiah dan Ekonomi Nasional ke Depan

Data pemerintah menunjukkan impor energi masih menjadi beban devisa karena ketergantungan terhadap pasokan minyak internasional yang rentan fluktuasi geopolitik dan harga komoditas.

Dampak Ekonomi dan Produktivitas Jadi Perhatian Pelaku Industri Nasional

Sejumlah analis ekonomi kawasan Pasifik menilai kebijakan ini berpotensi mengurangi produktivitas sektor manufaktur apabila tidak diimbangi sistem kerja digital memadai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X