ARGO 24 JAM - Apakah kematian pemimpin Iran dan serangan militer besar dapat mengubah peta geopolitik dunia secara drastis?
Mengapa Indonesia ikut terdampak konflik ribuan kilometer jauhnya dari Timur Tengah hingga berpotensi memengaruhi harga BBM nasional?
Eskalasi konflik Timur Tengah memasuki fase baru setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu ketegangan regional yang berdampak pada stabilitas global.
Baca Juga: Sorotan Mengarah ke Pulau Gebe Saat Industri Nikel Diuji Isu Lingkungan dan Kepatuhan Hukum
Pemerintah Iran pada Minggu (01/03/2026) mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah serangan roket dan operasi militer yang melibatkan sejumlah negara kawasan.
Operasi Militer Amerika Serikat dan Israel Mengubah Stabilitas Politik Timur Tengah
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan militernya memulai operasi tempur besar-besaran di Iran sebagai bagian dari strategi keamanan regional.
Baca Juga: Menguak Emas Tumpang Pitu Banyuwangi, dari Warisan Blambangan Hingga Tambang Strategis Energi
Serangan dilaporkan menghantam Teheran, termasuk wilayah dekat kediaman Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian meluncurkan serangan balasan ke Israel dan target strategis di Qatar, Uni Emirat Arab, serta Bahrain.
Konflik ini meningkatkan kekhawatiran pasar global terhadap gangguan distribusi energi dunia.
Dampak Geopolitik Konflik Iran Terhadap Jalur Energi dan Perdagangan Global
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menilai dampak konflik tidak hanya bersifat militer tetapi juga ekonomi internasional.
Ia menyebut jalur perdagangan minyak dari Timur Tengah berisiko terganggu karena negara-negara produsen menjadi bagian konflik.