ARGO 24 JAM - Apakah angka Rp14,5 triliun yang ramai diberitakan benar merupakan keuntungan korporasi sekuritas ternama di Indonesia?
Mengapa penyidikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bareskrim Polri terhadap aktivitas pasar modal memunculkan angka besar yang langsung memicu kekhawatiran investor?
Klarifikasi Mirae Asset Sekuritas Indonesia Soal Angka Rp145 Triliun Beredar
Manajemen PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menegaskan angka Rp14,5 triliun yang beredar dalam pemberitaan bukan merupakan aset, keuntungan, maupun pendapatan korporasi.
Baca Juga: Pemerintah Antisipasi Kekeringan Dengan Pompanisasi Lahan Demi Menjaga Produksi Beras Nasional
Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul penggeledahan yang dilakukan penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim) di kantor perusahaan.
Direktur PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Tomi Taufan menjelaskan bahwa angka tersebut berkaitan dengan konteks penyidikan dugaan manipulasi pasar modal.
“Terkait angka sekitar Rp14,5 triliun yang disebutkan dalam sejumlah pemberitaan, kami perlu menegaskan nilai tersebut bukan keuntungan, aset, maupun pendapatan Mirae Asset,” ujar Tomi Taufan.
Baca Juga: Purbaya Yudhi Sadewa Sebut Program MBG Bisa Disesuaikan Jika Penerimaan Negara Tidak Mencapai Target
Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan resmi yang dirilis Sabtu (7/3/2026) sebagai klarifikasi terhadap informasi yang berkembang di masyarakat.
Perusahaan Pastikan Dana dan Efek Nasabah Tetap Aman Terlindungi
Manajemen Mirae Asset memastikan seluruh dana dan efek milik investor tetap aman dan terlindungi dalam sistem kustodian resmi pasar modal Indonesia.
Tomi Taufan menyampaikan bahwa seluruh efek dan dana nasabah tercatat serta tersimpan dalam sistem Kustodian Sentral Efek Indonesia.
“Efek dan dana milik nasabah tercatat dan tersimpan dalam sistem Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI,” kata Tomi Taufan.
Ia menambahkan bahwa dana serta portofolio investasi nasabah disimpan secara terpisah dari aset korporasi sesuai regulasi pasar modal.
Artikel Terkait
KPK Telusuri Manipulasi Pajak dan Impor, Mengapa Kasus Korupsi Penerimaan Negara Sulit Terdeteksi
Peningkatan Logam Perak Sedimen Laut China Selatan Jadi Indikator Baru Dampak dari Pemanasan Global
Ekonom PEPS Ungkap Penurunan Kapasitas Fiskal Indonesia Sejak 2008, Risiko Ekonomi Nasional Meningkat
Mengapa Richard Lee Ditahan Polisi dalam Kasus Skincare, Ini Fakta Penyidikan Polda Metro Jaya
Kebijakan Likuiditas Rp100 Triliun Jadi Strategi Jaga Stabilitas Perbankan dan Pertumbuhan Ekonomi
Menkeu Purbaya Ingatkan Batas Defisit APBN Saat Program Makan Bergizi Gratis Mulai Dibahas Implementasinya
Jusuf Kalla Sebut MBG, Alutsista, dan Koperasi Penting, Namun Pemerintah Tetap Harus Tentukan Prioritas
Mentan Amran Ungkap Cadangan Beras Cukup 324 Hari Meski Ancaman Kekeringan dan Geopolitik Global
Stok Beras Aman Hampir Setahun, Pemerintah Jalankan Pompanisasi Lahan Pertanian Jutaan Hektare
Prabowo Tegaskan Ketahanan Pangan Indonesia Aman Hadapi Krisis Global di Tengah Ketegangan Geopolitik Dunia